Part 2: Papan Dada 90 yen~
…………………………
Seseorang berpakaian kemeja rapi keluar lewat pintu belakang mobil, dan sepertinya ia berumur sekitar empat puluh tahunan. Tak disangka ia berjalan kearahku dan melemparkan senyuman seraya berkata jika permainan pianoku sangat indah, pikirku. Ternyata ia hanya melewatiku begitu saja menuju warung takoyaki milik tetanggaku. Selang beberapa menit ia pun kembali melewatiku sambil membawa sebungkus takoyaki menuju mobilnya, aku dan Kaori hanya bisa menatapnya dan menghela nafas sejenak sembari mengubur harapan jika ia adalah seorang pencari bakat. Walaupun sedikit kecewa, tapi tak apalah pikirku, karena dengan terus mengasah kemampuan, impianku untuk mengabulkan harapan Kaori akan terwujud seiring dengan berjalannya waktu.
Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan sekarang aku telah duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ujian kelulusan pun hanya tinggal beberapa minggu lagi. Itu adalah hari penentuan apakah aku dapat mengejar impianku atau tidak. Kegiatanku dalam berlatih piano aku imbangi dengan belajar serius untuk ujian nanti, karena bagaimanapun kewajiban utamaku sebagai seorang murid sekolah dasar adalah untuk belajar dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Sepertinya hari-hariku memang tidak bisa dilepaskan dengan sosok seorang Kaori. Ia selalu menemaniku berlatih piano hingga usai, setelah itu kami lanjutkan dengan belajar bersama guna mencapai target nilai kami di sekolah, yaitu nilai yang sempurna. :D
Hari menuju ujian kelulusan tinggal seminggu lagi, tapi aku masih belum percaya diri untuk menghadapinya. Lagi-lagi selalu ada saja semangat baru yang muncul disaat semangatku sedang mengalami penurunan. Bagiku, Kaori adalah seorang motivator termuda sepanjang sejarah. Dengan cara dan perkataan yang menurutku unik, ia selalu dapat mengembalikan semangatku bahkan memberikanku semangat baru untuk terus menatap kedepan. Semua materi pelajaran telah kukuasai, hanya satu yang menjadi ganjalan di kepalaku yang membuatku gelisah, alat tulis untuk ujian nanti. Yang aku miliki saat ini hanyalah sepotong penghapus kotor, pensil sepanjang jari kelingking, dan pulpen yang tintanya mungkin hanya dapat digunakan untuk menulis nama di lembar jawaban saja. Padahal saat itu ibuku sedang sakit dan sudah beberapa hari tidak sanggup untuk pergi bekerja sehingga tidak memiliki cukup uang untuk membeli perlengkapan sekolah yang kubutuhkan. Untungnya aku masih memiliki uang tabungan yang kusimpan di saku celanaku. Satu hari menjelang ujian, aku diantar Kaori pergi ke sebuah toko alat tulis yang terletak tidak jauh dari sekolahku. Setelah kami sampai, aku langsung memilih alat tulis yang dibutuhkan. Sebuah penghapus bersih yang masih utuh, pensil baru, dan pulpen berisi tinta yang masih penuh sudah ada di genggamanku. Tapi sepertinya masih ada yang kurang. Yup!! Papan dada yang kubutuhkan sebagai alas saat ujian nanti belum kubeli. Tertera di papan dada tersebut harga sebuah papan dada adalah 90 yen (Rp 9.675,00), sementara uang yang kupunya hanyalah sisa kembalian tadi sebesar 25 yen (Rp 2.700,00). Dengan berat hati, aku harus melupakan keinginanku membeli papan dada tersebut dan segera mengajak Kaori untuk segera pulang.
Hari ujian pun tiba, aku dan Kaori seperti biasa pergi ke sekolah bersama. Sesampainya di kelas, kami langsung menempati bangku yang telah diatur sedemikian rupa, menurut absen kami di sekolah, dan Kaori duduk tepat di depanku. Sebelum bel tanda ujian dimulai berbunyi, terlihat Kaori mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata ia mengeluarkan sebuah papan dada yang sama seperti yang kulihat di toko alat tulis kemarin. Sambil tersenyum ia berbisik padaku,”Ini kubelikan papan dada. Jangan kecewakan aku ya Sho. Ambillah…”. “Oh…te..terimakasih Kaori..”ucapku. Hatiku bergetar seraya berpikir bahwa aku memiliki seorang superhero yang selalu ada untukku, Kaori memang sahabat terbaik di dunia pikirku. Bel pun berbunyi, pertanda ujian dimulai. Aku, Kaori, serta murid lainnya mulai mengerjakan soal. Tentunya, papan dada ini memberikan semangat tambahan untuk memberikan yang terbaik bagi Ibu, juga Kaori. ^^
To be continued. . .
Part 3
(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 3 ??)
lalu merekapun lulus dengan nilai yg memuaskan ..tapi sayang mereka harus berpisah ..mereka diterima disekolah yg berbeda ..bla bla bla XDD
BalasHapusmereka berdua memang lulus tapi sho ga bisa lanjut sekolah, dia memutuskan fokus main piano etc etc etc :DD
BalasHapus