Simphony

Rabu, 05 November 2014

Resensi Novel Labirin Lazuardi, Ketika Bumi Menangis




IDENTITAS BUKU
Judul Novel      : Labirin Lazuardi, Ketika Bumi Menangis
Penulis             : Gola Gong
Penerbit           : Tiga Serangkai
Tahun Terbit     : 2007
Tebal                : 222 halaman


SINOPSIS
Novel Labirin Lazuardi ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak remaja kaya bernama Lazuardi, dalam mencari arti sebuah kehidupan. Meskipun hidup dengan uang berlimpah, namun bukan kenyamanan dan ketenangan yang dirasakan Lazuardi. Justru perasaan gusar dan kosonglah yang selama ini selalu menghinggapi Lazuardi. Terlebih setelah mengetahui perbuatan tidak pantas yang dilakukan oleh Ayahnya sendiri, yang pergi bersama wanita lain ke sebuah vila. Memiliki latar belakang keluarga yang terpecah belah, akhirnya Lazuardi memilih untuk meninggalkan kehidupan lamanya yang jauh dari kata baik-baik.

Lazuardi memilih untuk meninggalkan segala hingar bingar perkotaan, dan memutuskan untuk berkelana tanpa arah demi mencari makna kehidupan. Dari menumpang ke sebuah truk, hingga sempat berurusan dengan polisi sudah pernah ia alami. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah desa, dan bertemu dengan seorang pengurus Masjid, disanalah ia memulai babak baru dalam kehidupannya. Lazuardi mulai belajar shalat, mengaji, dan bersosialisasi dengan penduduk desa. Namun bukan berarti kehidupan Lazuardi di desa tersebut tidak terusik, justru di desa itulah ia menghadapi masalah-masalah baru yang muncul. Perjalanan Lazuardi dalam mencari makna kehidupan yang sebenarnya, baru saja dimulai.


UNSUR INTRINSIK
Tema : Perjalanan seorang anak remaja dalam mencari makna kehidupan.
Latar Belakang : Truk, pegunungan, pesisir pantai, Masjid, vila.
Waktu : Pagi hingga malam.
Suasana : Mengharukan, menyenangkan, menegangkan.
Alur : Maju mundur.
Gaya Bahasa : Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembacanya.
Amanat : 1. Beribadah akan menjadikan pikiran dan hati kita lebih tenang.
               2. Dalam keluarga harus selalu mendukung satu sama lain dan hidup harmonis.
               3. Melakukan kebaikan adalah jawaban atas semua permasalahan.
Penokohan: 1. Lazuardi adalah sosok remaja tampan dan tangguh.
                  2. Latief adalah sosok pria yang taat beribadah.
                  3. Cak Leman dan Buto adalah kawanan preman yang kejam.
                  4. Pak Haji adalah sosok pria religius yang taat beribadah.
                  5. Aji adalah seorang pria yang gemar membaca dan tanggap terhadap permasalahan kehidupan.


KELEBIHAN NOVEL
Dalam novel ini terdapat kata-kata yang membuat kita terinpirasi untuk semangat dalam menjalani kehidupan. Mengajarkan kita untuk selalu taat beribadah dan senantiasa mengingat Allah. Ditambah lagi dengan menggunaan bahasa yang mudah dimengerti dan dapat membuat kita seperti melihat sendiri kejadian-kejadian menarik yang terdapat di dalam novel ini.


KEKURANGAN NOVEL
Kekurangan yang dimiliki oleh novel ini yaitu terdapat beberapa kata yang sulit dimengerti, terutama oleh pembaca yang awam dengan penggunaan kata-kata yang biasa ada dalam sebuah novel.


KRITIK DAN SARAN
Kisah yang begitu mengharukan, membuat kita berpikir tentang sebuah makna kehidupan. Sayangnya terdapat beberapa kata yang saya sulit mengerti dan mengharuskan saya membuka kamus. Namun selebihnya, saya sangat puas dengan keseluruhan isi novel tersebut. Dan menyarankan untuk yang belum membacanya agar segera membacanya, karena novel ini dapat menambah wawasan kita dalam menghadapi permasalahan social yang ada.

 

Selasa, 14 Oktober 2014

Penampilan Terbaik



Saat ini waktu menunjukan pukul 21.15 WIB, dan Bandung sedang diguyur hujan. Terkadang aroma hujan dapat membawa pikiran kita ke masa lalu. Dan aroma hujan saat ini mengingatkanku saat aku bersama ketiga temanku mengikuti sebuah kompetisi bernyanyi pada bulan September tahun lalu. Kompetisi bernyanyi itu bernama INORI dan diselenggarakan oleh SMA Negeri 3 Bandung, yang pesertanya berasal dari Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Saat itu bulan September 2013, aku, Nurza, Eka, dan Rahman memutuskan untuk mengikuti kompetisi bernyanyi ini dengan sungguh-sungguh disertai niat yang kuat. Kami berempat berlatih bernyanyi hampir setiap hari. Hari demi hari kami lalui dengan berlatih keras. Sempat sesekali kami merasa lelah, tapi apa mau dikata, jika kita ingin memperoleh hasil yang bagus, tentu memerlukan usaha yang keras.

Hingga akhirnya, kami sudah sampai di hari terakhir latihan, sebelum besok diharuskan tampil di hadapan para juri untuk menunjukan hasil latihan kami selama ini. Hari terakhir latihan ini benar-benar kami maksimalkan agar besok kami tidak tampil mengecewakan. Sampai akhirnya jam menunjukan pukul 21.00 WIB, dimana kami harus pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Istirahat sangat penting untuk menjaga kondisi kami agar besok bisa tampil baik. Sampai di rumah, aku kesulitan untuk tidur. Rasa gugup untuk menghadapi hari esok benar-benar menghinggapi pikiranku. Namun akhirnya rasa lelah berhasil mengalahkan rasa gugup dan membawaku ke alam mimpi.

Keesokan harinya, aku bangun tidur pagi sekali. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan kostum yang akan kupakai saat tampil nanti. Selepas mandi dan sarapan, aku langsung memakai kostum yang telah disiapkan. Lalu setelah ketiga temanku datang ke rumahku, kami pun memutuskan untuk segera berangkat ke SMA Negeri 3 Bandung, tempat dimana kompetisi bernyanyi dilaksanakan.

Singkat cerita, kami sudah sampai di SMA Negeri 3 Bandung dan sedang menunggu giliran tampil. Rasa gugup benar-benar menyelimuti kami berempat. Berbagai cara kami lakukan untuk membunuh rasa gugup yang menguasai kami. Mulai dari minum, mengobrol, mendengarkan lagu, hingga berdoa sudah kami lakukan, namun rasa gugup tetap tidak mau pergi. Hingga akhirnya Nurza berkata, “Jika kalian gugup tidak apa-apa, rasa gugup itu menunjukan jika kalian benar-benar ingin menunjukan penampilan yang terbaik.”. Perkataan Nurza membuat kami lebih tenang. Rasa gugup yang awalnya benar-benar tidak nyaman, kemudian berubah menjadi rasa gugup yang memotivasi kami.

Peserta demi peserta sudah selesai tampil. Hingga akhirnya, tibalah giliran kami untuk menunjukan kebolehan di hadapan para juri. Kami menaiki panggung dengan percaya diri. Perkenalan sudah kami lakukan, dan tibalah saatnya kami bernyanyi. Saat itu kami bernyanyi seperti saat latihan, perasaan tenang dan nyaman membuat kami menampilkan penampilan terbaik. Bait demi bait lagu kami bawakan dengan penuh percaya diri. Bait terakhir lagu pun kami lahap dengan mantap. Akhirnya selesai sudah penampilan dari kami. Iringan tepuk tangan dari penonton dan dewan juri mengantar kami saat menuruni panggung. Tepuk tangan itu benar-benar membuat perasaan gugup yang awalnya menghinggapi, berubah menjadi perasaan senang bercampur bangga. Semoga penampilan kami benar-benar memukau mata para dewan juri.

Kompetisi menyanyi sudah selesai, dan tiba saatnya pengumuman juara. Jujur saja, saat itu saya tidak berpikir untuk masuk menjadi 3 besar, apalagi menjadi juara, namun harapan tentu masih tetap ada. Juara 3 sudah diumumkan, dan itu bukan kami. Lalu tiba saat pengumuman untuk juara 2. Saya terus berdoa untuk setidaknya bisa masuk menjadi 3 besar. Juara 3 sudah tidak mungkin kami raih, harapan kami saat itu adalah menjadi juara 2. Akhirnya juara 2 diumumkan, dan ternyata kami adalah juara 2. Perasaan campur aduk menghinggapi kami saat itu. Senang, bangga, sedih, dan haru benar2 menghinggapi kami meskipun belum berhasil meraih juara 1. Kami terkejut, karena dari puluhan peserta yang tampil, masih banyak peserta yang penampilannya lebih baik dari kami. Namun tentu juri memiliki penilaian lain. Saat itu kami pulang ke rumah dengan perasaan bahagia, sambil membawa piala hasil jerih payah kami mengikuti kompetisi bernyanyi. Dan penghargaan ini, membuat kami semakin termotivasi untuk mengikuti kompetisi-kompetisi bernyanyi lainnya. Semoga suatu saat kami bisa menjadi juara 1.

Senangnya memiliki kenangan indah dimasa lalu, dan kompetisi menyanyi ini adalah salah satu kenangan indah buatku. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.30 WIB, hujan pun sudah berhenti mengguyur Bandung. Hanya tersisa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Saatnya aku bergegas tidur untuk menyambut hari esok. Terakhir aku ingin berpesan, yaitu, jika hasil yang telah kita dapat, ditentukan oleh bagaimana usaha kita dalam meraihnya. Maka teruslah berusaha dan jangan pernah putus asa.

Setelah tampil (ki-ka: Eka, Lucky, Rahman, Nurza).


Minggu, 26 Juni 2011

sepak terjang di trigonome3

hmm..trigonome3 bukanlah sebuah geng motor, komunitas, rumus ataupun nama sebuah gedung tua. tapi trigonome3 adalah sebuah nama untuk sebuah persahabatan yang sudah terjalin sejak kami menginjak kelas 2 SMP sekitar taun 2005-an. terdiri atas tiga pria berpenampilan lusuh, dekil, namun kompak, berpostur sedang, berdedikasi tinggi, berambut hitam, berumur selalu muda, bersuara merdu, berkaki dua, berjenis jantan(baca: laki-laki), blablabla....
aku bernama lucky, 2 org lainnya bernama dimas en yayang. walaupun kami bukan sebuah organisasi, tapi tetap harus mempunyai leader untuk mengarahkan tujuan kami kearah kekonyolan yang penuh dengan tindakan memalukan namun menyenangkan. aku pun ditunjuk sebagai leader dan dibantu kedua temanku tadi. disini aku dan yayang baru berkenalan sewaktu kelas 1 SMP karena kami mengikuti ekskul yang sama ---> bulutangkis, walaupun aku juga ikut sepak bola (bagian sepak bola sebenernya ga penting). itupun kami kenal karena yayang punya utang sebesar 500 rupiah saat jajan baso tahu, dan dia berjanji akan membayarnya di sekolah. benar saja, dia membayar lunas 500 rupiahnya!!
sementara aku dan dimas??kami sebenarnya kawan lama. kami sudah kenal sejak kelas 2 SD, karena saat itu kami mengikuti kursus aritmatika. hingga akhirnya kami dipertemukan kembali di kelas yang sama saat 1 SMP. Namun saat kelas 2, kami ternyata dipertemukan kembali di kelas yang juga sama, bedanya kali ini ada kehadiran sesosok pria yang ternyata sama" lusuh (baca: yayang) XD. kami bertiga sekelas, bedanya yayang duduk di depan kami sementara aku dan dimas sebangku.
kekompakan kami bertiga berlanjut saat bermain bola sepulang sekolah di lapangan yang untung-untungan. kenapa untung-untungan?bayangkan saja, jika ada anak-anak 'gaul'(anak gaul = julukan kami buat anak yang berbeda aliran a.k.a baong) yg juga sedang maen bola, kami terpaksa menunggu, belum lagi ada ekskul pramuka, ekskul satpam(baca: paskibra), dan seorang guru (pak *sensor*) yang selalu senantiasa tidak mengijinkan kami bermain bola.tapi tenang saja, sampai saat inipun kami tetap bermain bola di lapangan smp tercinta (biasanya minggu sore) walaupun perjuangan kami dipenuhi halangan dan rintangan.
banyak hal yang sudah kami lewati. dan semua hal yang kami lewati tidak terlepas dari kata "memalukan" (mungkin hal-hal yg memalukan itu akan saya bahas di entri berikutnya). memalukan yang menyenangkan. eta pissaaaan XD
mudah-mudahan kekompakan terus terjaga tanpa batas waktu (bahasamu luuk >XD)

inspirasi..kemana kamu?

semua terjadi saat detik-detik menjelang UTS. khawatir tentang ingatan rumus dan teori yang mungkin akan semakin hilang dari otak seiring bertambahnya usia, maka aku memutuskan untuk kembali membuka buku dan kembali mencoba flashback tentang semua rumus dan teori yang sudah diajarkan. saat itu aku memutuskan untuk vakum dalam menulis di blogger (maap yaa..aku harus berpaling darimu blogger). UTS berlangsung selama 2 minggu. semua mata kuliah aku bantai (atau sbenernya aku yg dibantai mata kuliah T_T). 1 hari setelah selesai UTS aku berinisiatif untuk membuka kembali bloggerku ini dg niat untuk kembali menulis lanjutan episode "NOPEL DORAMA". tak disangka, ketika jari jemariku sudah menyentuh keyboard vleyn (vleyn = nama laptop sejuta umatku(sejuta umat = semua maba di kampus pake laptop dg jenis, ukuran, sifat, wajah, bentuk, dan kepribadian yang sama))  ternyata otakku beku seperti otak patrick yang memiliki banyak jaring laba-laba.
hingga sekarang, aku belum menemukan si inspirasi yang kabur dari rumah. kemana aku harus mencarimuu. kasian nopel dorama ga tamat tamat hey. semua karakter yang ada di dalamnya nganggur, gaji pun blom cair, gmana cara mereka menyambung hidup klo mereka ga kerja kerja coba. mudah"an seiring berjalannya waktu, si inspirasi sadar klo kabur bukanlah jalan untuk memecahkan masalah. masih banyak kok cara buat nyelsein masalah. jadi jangan lama" yah kaburnya. :D

Jumat, 08 April 2011

Alunan Melodi Piano Usang (3)

Part 3: New Spirit…

…………………………
 “Ting tong…ting tong…”, bel berbunyi pertanda pelajaran dimulai dan seluruh siswa SMP Harou harus masuk ke kelasnya masing-masing. Aku bersyukur, berkat kerja keras dan dukungan dari orang terdekatku, aku dapat melanjutkan sekolah di salah satu SMP favorit, SMP Harou tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Ya! aku berhasil mendapatkan beasiswa yang membuatku tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sekolah, bahkan aku mendapatkan uang saku tiap bulan dari sekolahku.

Aku masuk di kelas 7-B, namun bedanya kali ini aku tidak bersama Kaori. Kaori berada di kelas 7-D, walaupun sekolah kami sama tapi kali ini terasa berbeda, karena kami yang sejak dulu terbiasa berada di satu kelas, harus berpisah kelas saat ini. Tak apalah pikirku, toh kami tetap berada di satu sekolah yang sama dan masih dapat bertemu, bahkan kami tetap pergi dan pulang sekolah bersama.

Di sekolah baruku ini, bakatku mulai tersalurkan. Dengan tersedianya wadah bagi para siswa yang suka bermusik, maka disitulah tempatku. Pelajaran musik yang aku terima semakin membuatku berkembang. Aku menjadi lebih lihai dalam hal bermusik, khususnya piano. Menurut guru pembimbingku, aku adalah siswa yang paling menonjol dalam menangkap dan membaca nada lagu. “Sho..dengan terus melihat kemampuanmu memainkan piano, saya yakin jika suatu saat kamu akan membuat Jepang bangga memiliki warga sepertimu.”, semangat yang guruku berikan membuatku semakin yakin dalam hal bermusik.

Jam menunjukkan pukul 4 sore, saatnya latihan rutin di trotoar tempat biasa aku berlatih piano. Kaori kembali menemaniku, tentunya sambil membawa cemilan untuk kami berdua. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tidak jauh dari tempatku. Seorang lelaki memakai setelan jas hitam dengan bawahan jeans biru sporty keluar dari pintu belakang dan berjalan kearahku.



To be continued. . .
Part 4

(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 4 ??)

Rabu, 06 April 2011

INPO "nopel dorama"

BEWARA. . .

gomen-nee  minna~
karena ada kesalahan teknis ( koneksi internet yang terputus -_-" ),,
maka sabtu kemarin,tanggal 2 April, part 3 "nopel dorama" urung terbit..
tapi, mulai saat ini koneksi internet sudah lancar dan "nopel dorama" dapat kembali dinikmati,,hhe :D
part 3 akan terbit pada hari sabtu, 9 April 2011~

so..DON'T MISS IT !!!! >:D

Sabtu, 26 Maret 2011

Alunan Melodi Piano Usang (2)


Part 2: Papan Dada 90 yen~

…………………………
Seseorang berpakaian kemeja rapi keluar lewat pintu belakang mobil, dan sepertinya ia berumur sekitar empat puluh tahunan. Tak disangka ia berjalan kearahku dan melemparkan senyuman seraya berkata jika permainan pianoku sangat indah, pikirku. Ternyata ia hanya melewatiku begitu saja menuju warung takoyaki milik tetanggaku. Selang beberapa menit ia pun kembali melewatiku sambil membawa sebungkus takoyaki menuju mobilnya, aku dan Kaori hanya bisa menatapnya dan menghela nafas sejenak sembari mengubur harapan jika ia adalah seorang pencari bakat. Walaupun sedikit kecewa, tapi tak apalah pikirku, karena dengan terus mengasah kemampuan, impianku untuk mengabulkan harapan Kaori akan terwujud seiring dengan berjalannya waktu.

Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan sekarang aku telah duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ujian kelulusan pun hanya tinggal beberapa minggu lagi. Itu adalah hari penentuan apakah aku dapat mengejar impianku atau tidak. Kegiatanku dalam berlatih piano aku imbangi dengan belajar serius untuk ujian nanti, karena bagaimanapun kewajiban utamaku sebagai seorang murid sekolah dasar adalah untuk belajar dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Sepertinya hari-hariku memang tidak bisa dilepaskan dengan sosok seorang Kaori. Ia selalu menemaniku berlatih piano hingga usai, setelah itu kami lanjutkan dengan belajar bersama guna mencapai target nilai kami di sekolah, yaitu nilai yang sempurna. :D

Hari menuju ujian kelulusan tinggal seminggu lagi, tapi aku masih belum percaya diri untuk menghadapinya. Lagi-lagi selalu ada saja semangat baru yang muncul disaat semangatku sedang mengalami penurunan. Bagiku, Kaori adalah seorang motivator termuda sepanjang sejarah. Dengan cara dan perkataan yang menurutku unik, ia selalu dapat mengembalikan semangatku bahkan memberikanku semangat baru untuk terus menatap kedepan. Semua materi pelajaran telah kukuasai, hanya satu yang menjadi ganjalan di kepalaku yang membuatku gelisah, alat tulis untuk ujian nanti. Yang aku miliki saat ini hanyalah sepotong penghapus kotor, pensil sepanjang jari kelingking, dan pulpen yang tintanya mungkin hanya dapat digunakan untuk menulis nama di lembar jawaban saja. Padahal saat itu ibuku sedang sakit dan sudah beberapa hari tidak sanggup untuk pergi bekerja sehingga tidak memiliki cukup uang untuk membeli perlengkapan sekolah yang kubutuhkan. Untungnya aku masih memiliki uang tabungan yang kusimpan di saku celanaku. Satu hari menjelang ujian, aku diantar Kaori pergi ke sebuah toko alat tulis yang terletak tidak jauh dari sekolahku. Setelah kami sampai, aku langsung memilih alat tulis yang dibutuhkan. Sebuah penghapus bersih yang masih utuh, pensil baru, dan pulpen berisi tinta yang masih penuh sudah ada di genggamanku. Tapi sepertinya masih ada yang kurang. Yup!! Papan dada yang kubutuhkan sebagai alas saat ujian nanti belum kubeli. Tertera di papan dada tersebut harga sebuah papan dada adalah 90 yen (Rp 9.675,00), sementara uang yang kupunya hanyalah sisa kembalian tadi sebesar 25 yen (Rp 2.700,00). Dengan berat hati, aku harus melupakan keinginanku membeli papan dada tersebut dan segera mengajak Kaori untuk segera pulang.

Hari ujian pun tiba, aku dan Kaori seperti biasa pergi ke sekolah bersama. Sesampainya di kelas, kami langsung menempati bangku yang telah diatur sedemikian rupa, menurut absen kami di sekolah, dan Kaori duduk tepat di depanku. Sebelum bel tanda ujian dimulai berbunyi, terlihat Kaori mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata ia mengeluarkan sebuah papan dada yang sama seperti yang kulihat di toko alat tulis kemarin. Sambil tersenyum ia berbisik padaku,”Ini kubelikan papan dada. Jangan kecewakan aku ya Sho. Ambillah…”. “Oh…te..terimakasih Kaori..”ucapku. Hatiku bergetar seraya berpikir bahwa aku memiliki seorang superhero yang selalu ada untukku, Kaori memang sahabat terbaik di dunia pikirku. Bel pun berbunyi, pertanda ujian dimulai. Aku, Kaori, serta murid lainnya mulai mengerjakan soal. Tentunya, papan dada ini memberikan semangat tambahan untuk memberikan yang terbaik bagi Ibu, juga Kaori. ^^


To be continued. . .
Part 3

(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 3 ??)

Jumat, 18 Maret 2011

Alunan Melodi Piano Usang


Part 1…Takdir dan Keteguhan…

“Prok..prok..prok..prok..proook!!”suara tepuk tangan para penonton yang memenuhi gedung Fuori Doom terdengar begitu ramai. Ya, saat itu aku berhasil menghibur ribuan penonton di Tokyo dengan aksiku memainkan piano klasik sambil bernyanyi melantunkan ‘beberapa’ buah lagu, dan sekaligus membuat bangga ibuku yang duduk di barisan VVIP. Itu terbukti saat gedung yang dapat menampung lima ribu orang ini terisi penuh tanpa satu kursi pun tersisa dan semuanya begitu antusias. First Love dari Utada Hikaru menjadi lagu pembuka yang kubawakan. Disusul dengan Konayuki, Canon, Evergreen, Yukino hana, Tokyo, Yubikiri, dan Wind. Lagu tersebut hanyalah sedikit dari banyaknya judul lagu yang kubawakan. “Janganlah berpuas diri dengan keadaanmu saat ini, terus dan teruslah berkaya karena itu akan memberikan warna bagi kehidupanmu yang berharga. Arigatou minna-san!!Sankyu nee!!sayonaraaaa!!”. Itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan saat mengakhiri konserku di Tokyo.

Namaku Yamato Kouji, namun sahabatku biasa memanggilku Sho-san. Entah darimana ia mendapatkan nama itu, yang pasti aku akan selalu berterima kasih padanya. Aku adalah anak tunggal dan umurku 19 tahun, saat ini aku berhasil kuliah di salah satu perguruan tinggi di Shizuoka berkat beasiswa yang kudapat sejak SMP. Aku tinggal di daerah pinggiran Shizuoka, daerah sempit yang mungkin kurang layak untuk ditinggali oleh kurang lebih 78 keluarga. Namun ternyata tinggal disana tidak begitu buruk, disana terdapat sekolah, pasar, hingga klinik yang harganya bisa dibilang masih terjangkau oleh warga seperti kami. Maklum, warga seperti kami harus kerja banting tulang seharian untuk mendapatkan sesuap nasi dan sepotong lauk. Aku bukanlah orang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahku meninggal saat aku berumur 4 tahun dan semenjak ayahku meninggal aku hanya hidup berdua dengan ibuku di sebuah rumah kontrakan yang ‘sangat mewah’ hingga harus pergi ke toilet umum jika ingin mandi atau sekedar buang air. Hidup seperti ini tidak jarang membuatku putus asa jika saja tidak ada dua sosok wanita hebat yang selalu berada disampingku. Sudah pasti yang pertama adalah ibuku yang berjuang tanpa kenal lelah untuk menghidupi kami berdua walaupun harus bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam sebagai buruh pabrik. Yang kedua tentu saja Sawajiri Kaori, sahabat terbaik yang senantiasa berada disampingku untuk selalu mendukung dan menyemangatiku.

Sejak kecil, hidupku tidak bisa dilepaskan dari segala hal yang menyangkut musik. Namun apa dayaku, seperti kebanyakan warga miskin, hidupku sengsara dan yang kupunya hanyalah sebuah piano kecil usang peninggalan ayahku yang sudah tidak layak untuk dimainkan karena bentuk dan warnanya yang sudah luntur termakan usia. Tapi walaupun begitu pianoku masih bisa dimainkan dan suara yang keluar pun tidak terlalu jelek. Kaori selalu membantu untuk membersihkan debu yang menempel di pianoku, melihat tingkah lakunya aku tahu jika ia telah menaruh harapan besar padaku. “Sho-san!!Jika nanti sudah dewasa, berjanjilah padaku jika kamu akan menjadi seorang maestro musik yang bisa membanggakan keluargamu ya..ganbatte nee!! :D”. Kalimat itu selalu ia ucapkan setiap aku sedang belajar memainkan piano. Itu terjadi sejak beberapa tahun lalu saat kami sedang duduk di kelas 1 sekolah dasar. Dan setiap ia mengatakan itu, entah mengapa aku selalu memarahinya hingga ia seringkali menangis, itu karena aku berpikir jika orang miskin sepertiku tidak mungkin bisa menjadi orang sukses. Namun disisi lain, untuk beberapa hal aku tahu jika ia serius dengan ucapannya dan benar-benar menaruh harapan padaku.

Beberapa tahun berlalu, dan saat itu kami sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar, aku mulai fasih dalam hal menangkap nada-nada yang keluar dari piano usangku. “do re mi re do…re mi fa mi re…mi fa sol fa mi…fa sol la sol fa…sol  la si la sol…la sol la sol fa…”. Berkali-kali aku berlatih menyanyi sambil memainkan piano. Itu selalu kulakukan saat sepulang sekolah di trotoar jalan dekat rumahku yang kebetulan bersebelahan dengan warung takoyaki tetanggaku. Hampir setiap hari Kaori menemaniku berlatih memainkan piano walaupun ia hanya diam dan terkadang ia pun membawa sedikit makanan dari rumahnya jika bekal sekolahnya masih tersisa :D. Hingga suatu hari, sebuah mobil sedan hitam yang sedang melaju tiba-tiba berhenti tepat di depanku dan Kaori yang sedang duduk sambil berlatih.

To be continued. . .
Part 2

(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 2 ??)