Saat ini waktu menunjukan pukul 21.15
WIB, dan Bandung sedang diguyur hujan. Terkadang aroma hujan dapat membawa
pikiran kita ke masa lalu. Dan aroma hujan saat ini mengingatkanku saat aku
bersama ketiga temanku mengikuti sebuah kompetisi bernyanyi pada bulan
September tahun lalu. Kompetisi bernyanyi itu bernama INORI dan diselenggarakan
oleh SMA Negeri 3 Bandung, yang pesertanya berasal dari Jawa Barat dan DKI
Jakarta.
Saat itu bulan September 2013, aku,
Nurza, Eka, dan Rahman memutuskan untuk mengikuti kompetisi bernyanyi ini
dengan sungguh-sungguh disertai niat yang kuat. Kami berempat berlatih
bernyanyi hampir setiap hari. Hari demi hari kami lalui dengan berlatih keras.
Sempat sesekali kami merasa lelah, tapi apa mau dikata, jika kita ingin
memperoleh hasil yang bagus, tentu memerlukan usaha yang keras.
Hingga akhirnya, kami sudah sampai di
hari terakhir latihan, sebelum besok diharuskan tampil di hadapan para juri
untuk menunjukan hasil latihan kami selama ini. Hari terakhir latihan ini
benar-benar kami maksimalkan agar besok kami tidak tampil mengecewakan. Sampai
akhirnya jam menunjukan pukul 21.00 WIB, dimana kami harus pulang ke rumah
masing-masing untuk beristirahat. Istirahat sangat penting untuk menjaga
kondisi kami agar besok bisa tampil baik. Sampai di rumah, aku kesulitan untuk
tidur. Rasa gugup untuk menghadapi hari esok benar-benar menghinggapi
pikiranku. Namun akhirnya rasa lelah berhasil mengalahkan rasa gugup dan membawaku
ke alam mimpi.
Keesokan harinya, aku bangun tidur
pagi sekali. Aku bergegas mandi dan mempersiapkan kostum yang akan kupakai saat
tampil nanti. Selepas mandi dan sarapan, aku langsung memakai kostum yang telah
disiapkan. Lalu setelah ketiga temanku datang ke rumahku, kami pun memutuskan
untuk segera berangkat ke SMA Negeri 3 Bandung, tempat dimana kompetisi
bernyanyi dilaksanakan.
Singkat cerita, kami sudah sampai di
SMA Negeri 3 Bandung dan sedang menunggu giliran tampil. Rasa gugup benar-benar
menyelimuti kami berempat. Berbagai cara kami lakukan untuk membunuh rasa gugup
yang menguasai kami. Mulai dari minum, mengobrol, mendengarkan lagu, hingga
berdoa sudah kami lakukan, namun rasa gugup tetap tidak mau pergi. Hingga
akhirnya Nurza berkata, “Jika kalian gugup tidak apa-apa, rasa gugup itu
menunjukan jika kalian benar-benar ingin menunjukan penampilan yang terbaik.”.
Perkataan Nurza membuat kami lebih tenang. Rasa gugup yang awalnya benar-benar
tidak nyaman, kemudian berubah menjadi rasa gugup yang memotivasi kami.
Peserta demi peserta sudah selesai
tampil. Hingga akhirnya, tibalah giliran kami untuk menunjukan kebolehan di
hadapan para juri. Kami menaiki panggung dengan percaya diri. Perkenalan sudah
kami lakukan, dan tibalah saatnya kami bernyanyi. Saat itu kami bernyanyi
seperti saat latihan, perasaan tenang dan nyaman membuat kami menampilkan
penampilan terbaik. Bait demi bait lagu kami bawakan dengan penuh percaya diri.
Bait terakhir lagu pun kami lahap dengan mantap. Akhirnya selesai sudah
penampilan dari kami. Iringan tepuk tangan dari penonton dan dewan juri
mengantar kami saat menuruni panggung. Tepuk tangan itu benar-benar membuat
perasaan gugup yang awalnya menghinggapi, berubah menjadi perasaan senang
bercampur bangga. Semoga penampilan kami benar-benar memukau mata para dewan
juri.
Kompetisi menyanyi sudah selesai, dan
tiba saatnya pengumuman juara. Jujur saja, saat itu saya tidak berpikir untuk
masuk menjadi 3 besar, apalagi menjadi juara, namun harapan tentu masih tetap
ada. Juara 3 sudah diumumkan, dan itu bukan kami. Lalu tiba saat pengumuman
untuk juara 2. Saya terus berdoa untuk setidaknya bisa masuk menjadi 3 besar.
Juara 3 sudah tidak mungkin kami raih, harapan kami saat itu adalah menjadi
juara 2. Akhirnya juara 2 diumumkan, dan ternyata kami adalah juara 2. Perasaan
campur aduk menghinggapi kami saat itu. Senang, bangga, sedih, dan haru benar2
menghinggapi kami meskipun belum berhasil meraih juara 1. Kami terkejut, karena
dari puluhan peserta yang tampil, masih banyak peserta yang penampilannya lebih
baik dari kami. Namun tentu juri memiliki penilaian lain. Saat itu kami pulang
ke rumah dengan perasaan bahagia, sambil membawa piala hasil jerih payah kami
mengikuti kompetisi bernyanyi. Dan penghargaan ini, membuat kami semakin
termotivasi untuk mengikuti kompetisi-kompetisi bernyanyi lainnya. Semoga suatu
saat kami bisa menjadi juara 1.
Senangnya memiliki kenangan indah
dimasa lalu, dan kompetisi menyanyi ini adalah salah satu kenangan indah buatku.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 22.30 WIB, hujan pun sudah berhenti
mengguyur Bandung. Hanya tersisa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Saatnya
aku bergegas tidur untuk menyambut hari esok. Terakhir aku ingin berpesan,
yaitu, jika hasil yang telah kita dapat, ditentukan oleh bagaimana usaha kita
dalam meraihnya. Maka teruslah berusaha dan jangan pernah putus asa.
![]() |
| Setelah tampil (ki-ka: Eka, Lucky, Rahman, Nurza). |
