Simphony

Sabtu, 26 Maret 2011

Alunan Melodi Piano Usang (2)


Part 2: Papan Dada 90 yen~

…………………………
Seseorang berpakaian kemeja rapi keluar lewat pintu belakang mobil, dan sepertinya ia berumur sekitar empat puluh tahunan. Tak disangka ia berjalan kearahku dan melemparkan senyuman seraya berkata jika permainan pianoku sangat indah, pikirku. Ternyata ia hanya melewatiku begitu saja menuju warung takoyaki milik tetanggaku. Selang beberapa menit ia pun kembali melewatiku sambil membawa sebungkus takoyaki menuju mobilnya, aku dan Kaori hanya bisa menatapnya dan menghela nafas sejenak sembari mengubur harapan jika ia adalah seorang pencari bakat. Walaupun sedikit kecewa, tapi tak apalah pikirku, karena dengan terus mengasah kemampuan, impianku untuk mengabulkan harapan Kaori akan terwujud seiring dengan berjalannya waktu.

Tanpa terasa waktu terus berjalan, dan sekarang aku telah duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ujian kelulusan pun hanya tinggal beberapa minggu lagi. Itu adalah hari penentuan apakah aku dapat mengejar impianku atau tidak. Kegiatanku dalam berlatih piano aku imbangi dengan belajar serius untuk ujian nanti, karena bagaimanapun kewajiban utamaku sebagai seorang murid sekolah dasar adalah untuk belajar dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Sepertinya hari-hariku memang tidak bisa dilepaskan dengan sosok seorang Kaori. Ia selalu menemaniku berlatih piano hingga usai, setelah itu kami lanjutkan dengan belajar bersama guna mencapai target nilai kami di sekolah, yaitu nilai yang sempurna. :D

Hari menuju ujian kelulusan tinggal seminggu lagi, tapi aku masih belum percaya diri untuk menghadapinya. Lagi-lagi selalu ada saja semangat baru yang muncul disaat semangatku sedang mengalami penurunan. Bagiku, Kaori adalah seorang motivator termuda sepanjang sejarah. Dengan cara dan perkataan yang menurutku unik, ia selalu dapat mengembalikan semangatku bahkan memberikanku semangat baru untuk terus menatap kedepan. Semua materi pelajaran telah kukuasai, hanya satu yang menjadi ganjalan di kepalaku yang membuatku gelisah, alat tulis untuk ujian nanti. Yang aku miliki saat ini hanyalah sepotong penghapus kotor, pensil sepanjang jari kelingking, dan pulpen yang tintanya mungkin hanya dapat digunakan untuk menulis nama di lembar jawaban saja. Padahal saat itu ibuku sedang sakit dan sudah beberapa hari tidak sanggup untuk pergi bekerja sehingga tidak memiliki cukup uang untuk membeli perlengkapan sekolah yang kubutuhkan. Untungnya aku masih memiliki uang tabungan yang kusimpan di saku celanaku. Satu hari menjelang ujian, aku diantar Kaori pergi ke sebuah toko alat tulis yang terletak tidak jauh dari sekolahku. Setelah kami sampai, aku langsung memilih alat tulis yang dibutuhkan. Sebuah penghapus bersih yang masih utuh, pensil baru, dan pulpen berisi tinta yang masih penuh sudah ada di genggamanku. Tapi sepertinya masih ada yang kurang. Yup!! Papan dada yang kubutuhkan sebagai alas saat ujian nanti belum kubeli. Tertera di papan dada tersebut harga sebuah papan dada adalah 90 yen (Rp 9.675,00), sementara uang yang kupunya hanyalah sisa kembalian tadi sebesar 25 yen (Rp 2.700,00). Dengan berat hati, aku harus melupakan keinginanku membeli papan dada tersebut dan segera mengajak Kaori untuk segera pulang.

Hari ujian pun tiba, aku dan Kaori seperti biasa pergi ke sekolah bersama. Sesampainya di kelas, kami langsung menempati bangku yang telah diatur sedemikian rupa, menurut absen kami di sekolah, dan Kaori duduk tepat di depanku. Sebelum bel tanda ujian dimulai berbunyi, terlihat Kaori mengambil sesuatu dari tasnya. Ternyata ia mengeluarkan sebuah papan dada yang sama seperti yang kulihat di toko alat tulis kemarin. Sambil tersenyum ia berbisik padaku,”Ini kubelikan papan dada. Jangan kecewakan aku ya Sho. Ambillah…”. “Oh…te..terimakasih Kaori..”ucapku. Hatiku bergetar seraya berpikir bahwa aku memiliki seorang superhero yang selalu ada untukku, Kaori memang sahabat terbaik di dunia pikirku. Bel pun berbunyi, pertanda ujian dimulai. Aku, Kaori, serta murid lainnya mulai mengerjakan soal. Tentunya, papan dada ini memberikan semangat tambahan untuk memberikan yang terbaik bagi Ibu, juga Kaori. ^^


To be continued. . .
Part 3

(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 3 ??)

Jumat, 18 Maret 2011

Alunan Melodi Piano Usang


Part 1…Takdir dan Keteguhan…

“Prok..prok..prok..prok..proook!!”suara tepuk tangan para penonton yang memenuhi gedung Fuori Doom terdengar begitu ramai. Ya, saat itu aku berhasil menghibur ribuan penonton di Tokyo dengan aksiku memainkan piano klasik sambil bernyanyi melantunkan ‘beberapa’ buah lagu, dan sekaligus membuat bangga ibuku yang duduk di barisan VVIP. Itu terbukti saat gedung yang dapat menampung lima ribu orang ini terisi penuh tanpa satu kursi pun tersisa dan semuanya begitu antusias. First Love dari Utada Hikaru menjadi lagu pembuka yang kubawakan. Disusul dengan Konayuki, Canon, Evergreen, Yukino hana, Tokyo, Yubikiri, dan Wind. Lagu tersebut hanyalah sedikit dari banyaknya judul lagu yang kubawakan. “Janganlah berpuas diri dengan keadaanmu saat ini, terus dan teruslah berkaya karena itu akan memberikan warna bagi kehidupanmu yang berharga. Arigatou minna-san!!Sankyu nee!!sayonaraaaa!!”. Itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan saat mengakhiri konserku di Tokyo.

Namaku Yamato Kouji, namun sahabatku biasa memanggilku Sho-san. Entah darimana ia mendapatkan nama itu, yang pasti aku akan selalu berterima kasih padanya. Aku adalah anak tunggal dan umurku 19 tahun, saat ini aku berhasil kuliah di salah satu perguruan tinggi di Shizuoka berkat beasiswa yang kudapat sejak SMP. Aku tinggal di daerah pinggiran Shizuoka, daerah sempit yang mungkin kurang layak untuk ditinggali oleh kurang lebih 78 keluarga. Namun ternyata tinggal disana tidak begitu buruk, disana terdapat sekolah, pasar, hingga klinik yang harganya bisa dibilang masih terjangkau oleh warga seperti kami. Maklum, warga seperti kami harus kerja banting tulang seharian untuk mendapatkan sesuap nasi dan sepotong lauk. Aku bukanlah orang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahku meninggal saat aku berumur 4 tahun dan semenjak ayahku meninggal aku hanya hidup berdua dengan ibuku di sebuah rumah kontrakan yang ‘sangat mewah’ hingga harus pergi ke toilet umum jika ingin mandi atau sekedar buang air. Hidup seperti ini tidak jarang membuatku putus asa jika saja tidak ada dua sosok wanita hebat yang selalu berada disampingku. Sudah pasti yang pertama adalah ibuku yang berjuang tanpa kenal lelah untuk menghidupi kami berdua walaupun harus bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam sebagai buruh pabrik. Yang kedua tentu saja Sawajiri Kaori, sahabat terbaik yang senantiasa berada disampingku untuk selalu mendukung dan menyemangatiku.

Sejak kecil, hidupku tidak bisa dilepaskan dari segala hal yang menyangkut musik. Namun apa dayaku, seperti kebanyakan warga miskin, hidupku sengsara dan yang kupunya hanyalah sebuah piano kecil usang peninggalan ayahku yang sudah tidak layak untuk dimainkan karena bentuk dan warnanya yang sudah luntur termakan usia. Tapi walaupun begitu pianoku masih bisa dimainkan dan suara yang keluar pun tidak terlalu jelek. Kaori selalu membantu untuk membersihkan debu yang menempel di pianoku, melihat tingkah lakunya aku tahu jika ia telah menaruh harapan besar padaku. “Sho-san!!Jika nanti sudah dewasa, berjanjilah padaku jika kamu akan menjadi seorang maestro musik yang bisa membanggakan keluargamu ya..ganbatte nee!! :D”. Kalimat itu selalu ia ucapkan setiap aku sedang belajar memainkan piano. Itu terjadi sejak beberapa tahun lalu saat kami sedang duduk di kelas 1 sekolah dasar. Dan setiap ia mengatakan itu, entah mengapa aku selalu memarahinya hingga ia seringkali menangis, itu karena aku berpikir jika orang miskin sepertiku tidak mungkin bisa menjadi orang sukses. Namun disisi lain, untuk beberapa hal aku tahu jika ia serius dengan ucapannya dan benar-benar menaruh harapan padaku.

Beberapa tahun berlalu, dan saat itu kami sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar, aku mulai fasih dalam hal menangkap nada-nada yang keluar dari piano usangku. “do re mi re do…re mi fa mi re…mi fa sol fa mi…fa sol la sol fa…sol  la si la sol…la sol la sol fa…”. Berkali-kali aku berlatih menyanyi sambil memainkan piano. Itu selalu kulakukan saat sepulang sekolah di trotoar jalan dekat rumahku yang kebetulan bersebelahan dengan warung takoyaki tetanggaku. Hampir setiap hari Kaori menemaniku berlatih memainkan piano walaupun ia hanya diam dan terkadang ia pun membawa sedikit makanan dari rumahnya jika bekal sekolahnya masih tersisa :D. Hingga suatu hari, sebuah mobil sedan hitam yang sedang melaju tiba-tiba berhenti tepat di depanku dan Kaori yang sedang duduk sambil berlatih.

To be continued. . .
Part 2

(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 2 ??)

Jumat, 11 Maret 2011

Launching "nopel dorama"

Oy oy minna-san !! >XD
bakalan ada rubrik terbaru nih. .
rubrik "nopel dorama" bakalan tampil disini. .
sedikit penjelasan,,"nopel dorama" adalah suatu rubrik yang memuat tentang cerita-cerita seputar kehidupan manusia. .
di dalemnya,,bakalan terdiri dari beberapa judul yang berbeda. .hhe
nanti,,buat satu judul "nopel dorama",,bakalan terdiri dari beberapa part loh. .
di dalem partnya lagi,,bakalan ditambahin juga sub-judul yang mengacu ke cerita dari part itu sendiri. .
naah. .nopel yang hanya khayalan belaka ini mengangkat kehidupan di daerah Negeri Sakura ^^
so. .buat yang suka tentang Jepang,,"nopel dorama" bakal layak buat dibaca XD

buat cerita pertama,,"nopel dorama" bakalan launching pada hari sabtu tanggal 19 Maret 2011 !!!
DON'T MISS IT !!!!!
dozooooo. . . . >XD