Part 1…Takdir dan Keteguhan…
“Prok..prok..prok..prok..proook!!”suara tepuk tangan para penonton yang memenuhi gedung Fuori Doom terdengar begitu ramai. Ya, saat itu aku berhasil menghibur ribuan penonton di Tokyo dengan aksiku memainkan piano klasik sambil bernyanyi melantunkan ‘beberapa’ buah lagu, dan sekaligus membuat bangga ibuku yang duduk di barisan VVIP. Itu terbukti saat gedung yang dapat menampung lima ribu orang ini terisi penuh tanpa satu kursi pun tersisa dan semuanya begitu antusias. First Love dari Utada Hikaru menjadi lagu pembuka yang kubawakan. Disusul dengan Konayuki, Canon, Evergreen, Yukino hana, Tokyo, Yubikiri, dan Wind. Lagu tersebut hanyalah sedikit dari banyaknya judul lagu yang kubawakan. “Janganlah berpuas diri dengan keadaanmu saat ini, terus dan teruslah berkaya karena itu akan memberikan warna bagi kehidupanmu yang berharga. Arigatou minna-san!!Sankyu nee!!sayonaraaaa!!”. Itu adalah kalimat terakhir yang kuucapkan saat mengakhiri konserku di Tokyo.
Namaku Yamato Kouji, namun sahabatku biasa memanggilku Sho-san. Entah darimana ia mendapatkan nama itu, yang pasti aku akan selalu berterima kasih padanya. Aku adalah anak tunggal dan umurku 19 tahun, saat ini aku berhasil kuliah di salah satu perguruan tinggi di Shizuoka berkat beasiswa yang kudapat sejak SMP. Aku tinggal di daerah pinggiran Shizuoka, daerah sempit yang mungkin kurang layak untuk ditinggali oleh kurang lebih 78 keluarga. Namun ternyata tinggal disana tidak begitu buruk, disana terdapat sekolah, pasar, hingga klinik yang harganya bisa dibilang masih terjangkau oleh warga seperti kami. Maklum, warga seperti kami harus kerja banting tulang seharian untuk mendapatkan sesuap nasi dan sepotong lauk. Aku bukanlah orang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ayahku meninggal saat aku berumur 4 tahun dan semenjak ayahku meninggal aku hanya hidup berdua dengan ibuku di sebuah rumah kontrakan yang ‘sangat mewah’ hingga harus pergi ke toilet umum jika ingin mandi atau sekedar buang air. Hidup seperti ini tidak jarang membuatku putus asa jika saja tidak ada dua sosok wanita hebat yang selalu berada disampingku. Sudah pasti yang pertama adalah ibuku yang berjuang tanpa kenal lelah untuk menghidupi kami berdua walaupun harus bekerja tanpa henti dari pagi hingga malam sebagai buruh pabrik. Yang kedua tentu saja Sawajiri Kaori, sahabat terbaik yang senantiasa berada disampingku untuk selalu mendukung dan menyemangatiku.
Sejak kecil, hidupku tidak bisa dilepaskan dari segala hal yang menyangkut musik. Namun apa dayaku, seperti kebanyakan warga miskin, hidupku sengsara dan yang kupunya hanyalah sebuah piano kecil usang peninggalan ayahku yang sudah tidak layak untuk dimainkan karena bentuk dan warnanya yang sudah luntur termakan usia. Tapi walaupun begitu pianoku masih bisa dimainkan dan suara yang keluar pun tidak terlalu jelek. Kaori selalu membantu untuk membersihkan debu yang menempel di pianoku, melihat tingkah lakunya aku tahu jika ia telah menaruh harapan besar padaku. “Sho-san!!Jika nanti sudah dewasa, berjanjilah padaku jika kamu akan menjadi seorang maestro musik yang bisa membanggakan keluargamu ya..ganbatte nee!! :D”. Kalimat itu selalu ia ucapkan setiap aku sedang belajar memainkan piano. Itu terjadi sejak beberapa tahun lalu saat kami sedang duduk di kelas 1 sekolah dasar. Dan setiap ia mengatakan itu, entah mengapa aku selalu memarahinya hingga ia seringkali menangis, itu karena aku berpikir jika orang miskin sepertiku tidak mungkin bisa menjadi orang sukses. Namun disisi lain, untuk beberapa hal aku tahu jika ia serius dengan ucapannya dan benar-benar menaruh harapan padaku.
Beberapa tahun berlalu, dan saat itu kami sudah duduk di kelas 5 sekolah dasar, aku mulai fasih dalam hal menangkap nada-nada yang keluar dari piano usangku. “do re mi re do…re mi fa mi re…mi fa sol fa mi…fa sol la sol fa…sol la si la sol…la sol la sol fa…”. Berkali-kali aku berlatih menyanyi sambil memainkan piano. Itu selalu kulakukan saat sepulang sekolah di trotoar jalan dekat rumahku yang kebetulan bersebelahan dengan warung takoyaki tetanggaku. Hampir setiap hari Kaori menemaniku berlatih memainkan piano walaupun ia hanya diam dan terkadang ia pun membawa sedikit makanan dari rumahnya jika bekal sekolahnya masih tersisa :D. Hingga suatu hari, sebuah mobil sedan hitam yang sedang melaju tiba-tiba berhenti tepat di depanku dan Kaori yang sedang duduk sambil berlatih.
To be continued. . .
Part 2
(silahkan beri saran, menurut anda cerita apa yang akan terjadi di part 2 ??)
belum ketebak ruk...
BalasHapusdia ditemukan pencari bakat kah?
aku juga blum tw blew..
BalasHapuspokonya tiap hari sabtu pasti muncul part selanjutnya..
makanya smbil mnunggu siapa tw ada yg punya ide buat cerita selanjutnya..komen aja disini haha XD
ayo" terus update yaah~
jangan" Kaori nya mati ketabrak mobil??? O_0
BalasHapusjangaaaaan ~!
kt aku wktu itu ttg bhasanya luk, lbh baik g ada penggunaan bhsa jepang, kan latar cerita itu sndiri udh di jepang . hehe ^^v
BalasHapuskata aku ma dia dpet tawaran jd musisi gtu, terus c kaorinya ntar teh ditinggal, haha
"Keluarlah seorang pria setengah baya tapi berperawakan tegap, 'Kaori!', teriaknya.
BalasHapus'Ah..Ayah..', terlihat sedikit ekspresi terkejut di wajah Kaori.
'Kamu...masih saja bergaul dengan anak rendahan ini!' seraya menunjukku, 'ayo pulang Kaori!'
'Tapi Yah...'
Belum sempat Kaori menyelesaikan kalimatnya, pria itu segera menarik kaori ke dalam mobil dan melesat pergi, asap knalpot sedan itu menari-nari di depan wajahku.."
*ngaco
haha gomen urg baru baca luk XDDD
keep it up!!
eh baru sadar knapa poto sakura di blog kita sama wkwkwk
BalasHapuskekuatan batin~ *lagi XD
BalasHapus